TULANG BAWANG — Perkembangan teknologi informasi baik di media online, media elektronik tv, radio, dan media cetak, bagaikan mata pisau yang tajam, dengan berselancar di dunia maya seakan membuat dunia nyata semakin kecil saja. Satu sisi bermanfaat, sementara disisi yang lain banyak mengandung konten negatif, tergantung orang yang memanfaatkannya. Minggu, (22/3/2020).

Seperti, industri rokok pun menjadikan media, sebagai ladang iklan dan promosi demi kepentingan usaha. Menyikapi hal ini, Ketua Lembaga Peduli Anak dan Perempuan (LPAP)Kabupaten Tulang Bawang, Mawardi Hendra Jaya, S.H, menilai iklan di internet maupun media online atau elektronik belum layak anak, karena masih ada iklan rokok yang mudah diakses dan dilihat anak-anak. Sedangkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Komunikasi dan informatika (Kominfo) juga sedang membahas terkait regulasi pembatasan iklan rokok di media eletronik.

Baca Juga :  Babinsa Koramil 426-02/Menggala Bergotong Royong Bantu Warga Masyarakat

”Dengan pemblokiran iklan rokok di media sosial maupun di media elektronik, diharapkan mampu menurunkan prevalensi merokok khususnya anak-anak dan remaja. Namun disisi lain mereka melupakan bahwa bahaya media internet bagi anak-anak bukan sekedar karena iklan rokok semata, tetapi masih banyak yang lain seperti konten porno dan konten yang mengandung syirik,”terang Mawardi.

Dikatakan Mawardi, dalam Islam, media mewujudkan fungsinya sebagai sarana edukasi dan informasi. Tapi sangat disayangkan banyak orang tua memberikan kebebasan anak dengan memberikan fasilitas internet dan HP, tanpa diimbangi dengan pengarahan, bimbingan, pengawasan serta pendidikan berupa kesadaran akan jati dirinya dalam kehidupan. Menanamkan aqidah Islam akan menjadikan anak tumbuh berkembang didasarkan pada aqidah tersebut.

”Karena Aqidah islam akan mampu melahirkan jiwa anak selalu terikat dengan syariatNya dan takut melanggar aturan yang telah digariskan oleh Allah. Ketika anak mengakses internet, maka aqidah Islam yang telah terinstal dalam dirinya akan menjadi filter sekaligus anti virus sehingga mampu mengoperasikan internet dengan membuka konten-konten yang sehat,”tutur Mawardi.

Baca Juga :  RSUD Menggala MOU Dengan Universitas Aisyiyah Pringsewu

Lanjut Mawardi, dengan menanamkan aqidah kepada anak saja tidaklah cukup, perlu ada perlindungan lagi, yaitu kontrol masyarakat dan partai politik serta peran Negara, ketiga perlindungan ini harus berjalan secara saling menyatu.

”Dimensi pertama dilakukan oleh orang tua khususnya ibu. Begitu pula peran masyarakat dan partai politik melakukan tindakan kontrol, muhasabah, amar ma’ruf nahi mungkar. Perlindungan terakhir dan menjadi garda terdepan adalah peran Negara yang betul-betul amanah melindungi anak, agar disetiap lini dimasyarakat dapat terwujud daerah ramah anak,”ujar Mawardi. (Agus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here